Archive for Oktober, 2012

Resensi Film The Company Men

Film ini diperankan oleh 3 tokoh pilar: (1) Bobby, eksekutif muda yang diperankan Ben Affleck; (2) Gene, salah satu direktur perusahaan bagian industri baja yang diperankan Tommy Lee Jones; dan (3) Phil, tangan kanan Gene yang dimainkan Chris Cooper. Mereka satu per satu dipecat dari perusahaan yang selama ini menjadi tempat mereka mencari uang demi membangun status sosial berkehidupan mewah dan mapan. Dan hal itu pun mulai menjadi malapetaka bagi kehidupan sosialnya, tak terkecuali rumah tangganya yang tak senyaman seperti biasanya.

Bobby yang sejak pertama berkarier langsung mendapat pekerjaan “berkerah putih” dihadapkan pada identitas baru tanpa martabat dengan menjadi pengangguran berusia 37 tahun yang kesana-kemari menenteng CV mencari posisi lama di tempat baru. Bobby mendapat tes mental melepas gengsi karena hidup terus berjalan meski perkerjaan tak ada. Sedikit demi sedikit barang-barang miliknya dijual karena keterbatasam ekonomi. Di fase inilah ia terpaksa berdamai dengan sang kakak ipar, sebuah peran kecil yang dibintangi apik oleh Kevin Costner, yang menawari pekerjaan bangunan. Tetapi setelah ia mulai nyaman dengan kakak iparnya, Gene datang menawarinya untuk menjadi bagian dalam perusahaan barunya dan kembali menjadi seorang eksekutif muda.

Gene yang memang tengah mengalami kelesuan hubungan rumah tangga jadi semakin yakin mencari biduk baru. Ia yang telah membangun bersama perusahaan sejak dari nol, prihatin dengan kondisi PHK, yang pada akhirnya dirinya sendiri di PHK oleh sahabat karibnya yang telah membangun perusahaan bersama. Ia sangat mengedepankan etika bisnis dalam bekerja, oleh karena itu dia menentang kebijakan sahabatnya itu, yang menjadikannya di keluarkan dari perusahaan.

Sedangkan Phil mewakili karakter penuh melodramatik. Sampai-sampai isteri Phil menyuruhnya tetap berlagak seperti masih bekerja walau di luar rumah jelas-jelas tidak ada kerjaan. Dari segi mental, dia yang paling lemah, yang tak bisa menerima kenyataan saat dirinya di PHK oleh perusahaan.

The Company Men adalah sebuah refleksi. Ia mengingatkan, tak ada pekerjaan sepele. Pekerjaan kotor dan kasar tetaplah pekerjaan dan tak boleh dilecehkan bahkan dilupakan. Dunia terus berputar dan tak diketahui idealkah sistem yang ada selama ini sampai kita sendiri yang menjadi korban. Cerita dan pesan yang reflektif ini dituturkan secara datar. Beberapa adegan terkesan kaku, merengek-rengek, dan kurang efektif. Musik pengiring di akhir menyudahi film dengan embusan optimisme.

Iklan