Archive for April, 2012

PERAN SDM DALAM MENGHADAPI PERSAINGAN GLOBAL

ABSTRAK

Era globalisasi dan perdagangan bebas membuat persaingan bisnis semakin ketat. Ditingkat makro, pemerintah perlu meningkatkan kompetensi SDM Melalui program peningkatan mutu pendidikan. Sedang ditingkat mikro, perusahaan perlu mengadopsi visi, misi  dan strategi yang tepat yang didukung oleh strategi SDM dan budaya perusahaan yang tepat pula. Pada dasarnya strategi SDM berkaitan dengan tiga aktivitas SDM : pengadaan, pemeliharaan serta pelatihan dan pengembangan. Ketiga aspek tersebut perlu mengacu pada komponen organisasi, seperti misalnya strategi, budaya perusahaan dan struktur agar mendukung keefektifan perusahaan. Strategi dan perencanaan SDM Perlu didukung oleh nilai-nilai kreativitas, layanan, continous

Learning dan inovatif. Konsep learning organization seyogyanya diaplikasi dan dikembangkan untuk mengantisipasi tantangan lingkungan internal dan eksternal. Artikel ini padasarnya membahas peranan strategi SDM dalam menghadapi era globalisasi agar perusahaan mampu bertahan dan berkembang.

 

PENDAHULUAN

         Abad 21 diwarnai oleh era globalisasi; kesiapan pemerintah dalam menghadapinya perlu didukung oleh para pelaku bisnis dan akademisi. Strategi SDM Perlu dipersiapkan secara seksama khususnya oleh perusahaan-perusahaan agar mampu menghasilkan keluaran yang mampu bersaing di tingkat dunia. Perdagangan bebas tidak hanya terbatas pada ASEAN, tetapi antar Negara-negara di dunia. Untuk mengantisipasi perdagangan bebas ditingkat dunia, para pemimpin Negara ASEAN pada tahun 1992 memutuskan didirikannya AFTA (ASEAN Free Trade Area) yang bertujuan meningkatkan keunggulan bersaing regional karena produksi diarahkan pada orientasi pasar dunia melalui eliminasi tariff/bea maupun menghilangkan hambatan tariff. Tariff diperkirakan berkisar 0-5 persen, berarti relative sangat rendah. Enam Negara telah menanda tangani persetujuan CEPT (The Common Effective Preferential Tariff) yang pada dasarnya menyetujui penghapusan bea impor setidak-tidaknya 60 persen dari IL (Inclusion List)pada tahun 2003. Dengan demikian, perusahaan-perusahaan Indonesia tidak hanya bersaing dengan perusahaan dalam negeri namun mereka mau tidak mau harus bersaing dengan perusahaan multinasional dan perusahaan dari Negara lain. Perusahaan Indonesia dituntut mampu bersaing secara professional pada skala dunia (global) supaya dapat tetap survive dan bahkan berkembang. Banyak perusahaan-perusahaan di dunia dan di Indonesia telah menyadari hal tersebut. Namun tidak sedikit pula dari mereka yang tidak memperhitungkan implikasi langsung strategi perusahaan tersebut terhadap sumber daya manusia. Banyak perusahaan-perusahaan di dunia dan di Indonesia telah menyadari hal tersebut dan memilih strategi perusahaan yang tepat.

 

GLOBALISASI DAN SDM

Istilah globalisasi sebenarnya sudah sering dipergunakan sejak beberapa tahun terkhir ini. Bahkan tidak sedikit pelaku bisnis di dunia dan juga di Indonesia yang sudah memahaminya. Namun, implikasi globalisasi pada manajemen sumber daya manusia tampaknya masih kurang diperhatikan secara proporsional karena tolok ukur keefektifannya kurang memiliki keterkaitan langsung dengan strategi bisnis. Fakta menunjukkan bahwa peranan manusia dalam menunjang pengimplementasian suatu strategi perusahaan, SBU (Strategic business Unit) maupun fungsional sangat penting dan menentukan. Pada abad 21 ini pelaku bisnis harus pula mampu mengintegrasikan semua dimensi lingkungan hidup sebab masyarakat akan “menuntut” tanggung jawab perusahaan akan factor lingkungan tersebut.  Capra (1997) mengemukakan bahwa penggeseran paradigm mekanistik ke paradigm holistic akan terus berjalan dengan sendirinya. Pelaku bisnis harus tanggap menghadapi berbagai isu tersebut dengan bijaksana. Selain itu, flexibility dan continous learning merupakan karakteristik yang sangat penting dan yang sudah perlu dipertimbangkan oleh pelaku bisnis untuk menjawab tantangan dari perdagangan bebas yang semakin kompetitif. Globalisasi adalah suatu kenyataan dan akan mempunyai dampak langsung maupun tidak langsung pada kebanyakan aspek bisnis di Indonesia. Untuk memenangkan persaingan di pasar global, perusahaan harus berupaya membuat atau memunculkan produk baru yang inovatif, komitmen karyawan/karyawati, pengelolaan perubahan melalui kerja sama kelompok.mendapatkan calon karyawan yang berkualitas dan professional di Indonesia tidak selalu mudah. Hal tersebut disebabkan antara lain karena ketidaksesuaian antara job requirements dengan kompetensi calon. Bajak-membajak tenaga professional dan headhunting masih masih sering terjadi sampai saat ini.berdasarkan kenyataan ini, sedini mungkin SDM handal dan berkompetensi tinggi harus disiapkan. Menurut BPS (2000), Pada tahun 1999 dari 1.2 juta pencari kerja yang memenuhi persyaratan untuk 0,5 juta lowongan kerja itu hanya 0,4 juta orang.sumber daya manusia merupakan penggerak roda pembangunan. Jumlah dan komposisinya terus berubah berkaitan dengan proses demografis.dunia bisnis akan semakin berorientasi global terlebih lagi jika implementasi perdagangan bebas semakin menjadi kenyataan. Kompetisi akan semakin ketat dan tuntutan dunia meningkat. Taylor (1994) mengemukakan beberapa tindakan yang  harus dilakukan dalam melakukan transformasi organisasi agar berhasil dan siap menghadapi masalah-masalah di masa depan yaitu :

a) Stretch goals

b) Visi masa depan

c) Struktur yang ramping

d) Budaya baru yang mengacu pada profesionalisme

e) Berorientasi pada mutu atau layanan berkelas dunia

f) Manejemen prestasi

g) Inovasi menyeluruh

h) Kemitraan dan jaringan kerja

     Paradigma organisasi yang belajar membahas pentingnya peranan learning dalam menunjang keberhasilan perusahaan melalui SDM yang mengimplementasi paradigm tersebut. Learning organization membahas 5 komponen dasar sebagai berikut :

  1. Personal matery   membahas suatu penguasaan terpadu dan tuntas suatu pengetahuan dan ketrampilan tertentu.
  2. Mental Models    Memberi dorongan yang kuat terhadap tindakan karyawan.
  3. Shared vision      merupakan suatu kekuatan atau dorongan agar karyawan secara bersama-sama komit dan mau belajar secara terus menerus.
  4. Team Learning   merupakan pengembangan individu melalui kelompok kerja dengan cara dialog dan diskusi.
  5. Systems thinking merupakan salah satu komponen yang menyatukan dan memadukan komponen-komponen lain membentuk suatu kesatuan yang bermakna.

 

TEORI

Tantangan terpenting yang  dihadapi manajemen sumber daya manusia selalu berkaitan dengan menyediakan pelayanan yang  masuk akal dengan rencana strategi perusahaan. Dalam menformulasi strategi SDM, manajer SDM  harus memikirkan tiga tantangan mendasar.  Pertama keharusan mendukung produktivitas dan upaya peningkatan kinerja perusahaan. Kedua, karyawan memainkan peran yang  makin luas dalam usaha perbaikan kinerja pengusaha. Ketiga SDM  harus terlibat lebih jauh dalam mendesain tidak hanya melaksanakan rencana strategi perusahan.

Perencanaan strategi mencakup 4  tugas utama menejemen strategi yaitu menentukan evaluasi situasi internal dan eksternal,  mendefinisikan bisnis dan mengembangkan misi, menerjemahkan misi kedalam tujuan strategi,  dan merangkai strategi atau arahan tindakan. Strategi pada tingkatan korporasi mengidentifikasi portofolio bisnis secara keseluruhan,  terdiri dari perusahaan dan cara berhubungan satu sama lain. Pada tingkat yang lebih rendah,  setiap bisnis ini butuh strategi kompetitif/tingkat bisnis. Kita  dapat mendefinisikan keuntungan kompetitif sebagai semua faktor yang  memungkinkan organisasi mendiferensiasikan produk atau jasa dari produk dan jasa pesaing untuk meningkatkan presentase pangsa pasar. Perusahaan  menggunakan beberapa strategi kompetitif untuk mencapai keuntungan kompetitif yaitu kepemimpinan biaya rendah, diferensiasi dan focus. Istilah SDM  strategic mengacu pada serangkaian tindakan spesifik manajemen SDM yang  didorong oleh perusahaan untuk mencapai tujuan. Tujuan yang terpenting dari strategi SDM adalah membangun karyawan yang memiliki komitmen, terutama dalam lingkungan tanpa serikat kerja.

Manajer SDM  melakukan dua peran mendasar perencanaan strategi yaitu melaksanakan dan memformulasikan strategi. Manajemen puncak memformulasikan strategi korporasi dan kompetitif perusahaan lalu strategi tersebut memformulasikan kebijakan dan strategi fungsional yang  luas. Peraturan dasar pada strategi ini adalah aktivitas kebijakan dan strategi departemen SDM  harus masuk akal berkaitan dengan strategi kompetitif dan korporatif perusahaan. Perantradisional SDM dalam pelaksanaan strategi telah meluas termasuk bekerja dengan manajemen puncak untuk memformulasikan rencana strategic perusahaan. Peran meluas dalam formulasi strategi menggambarkan realita yang  dihadapi oleh sebagian besar perusahaan besar saat ini. Globalisasi berarti persaingan yang semakin meningkat, berarti kinerja yang  lebih baik dan sebagian besar perusahaan besar dapat meningkatkan kinerja secara keseluruhan atau sebagian dengan mendorong kompetensi dan komitmen karyawan mereka.

Proses SDM terdiri dari 3 komponen dasar, yaitu: profesional SDM yang  dibutuhkan untuk membangun SDM, kegiatan dan kebijakan SDM,  serta kompetensi dan prilaku karyawan. Di lingkungan yang  kompetitif saat ini manajer tidak dapat mengabaikan sifat sistem SDM, kebijakan dan praktek aktual SDM  untuk kesempatan. Manajer biasanya mencoba untuk menciptakan system kerja kinerja tinggi. Manajemen memformulasikan rencana strategi dengan mengimplikasikan beberapa persyaratan tenaga kerja, berkaitan dengan keahlian,  karakteristik dan prilaku karyawan yang harus diberikan oleh SDM untuk memberdayakan bisnis agar  dapat mencapai tujuan yang telah strategikan sebelumnya

Ada tujuh tahap dalam penggunaan pendekatan kartu nilai SDM  untuk menciptakan hasil strategic yang berorientasi pada sistem SDM, antara lain:

  1. Mendefinisikan strategi bisnis.
  2. Menjabarkan nilai rantai perusahaan.
  3. Mengidentifikasi keluaran organisasi yang secara strategi dibutuhkan.
  4. Mengidentifikasi prilaku dan kompetensi tenaga kerja yang dibutuhkan.
  5. Mengidentifikasi aktivitas dan kebijakan sistem SDM yang  relevan secara strategi.
  6. Mendesain system pengukuran kartu nilai SDM.
  7. Evaluasi secara periodic system pengukuran

 

Kesimpulan

 

        Dengan dimulainya perdagangan bebas yang antara lain : Diawalinya realisasi persetujuan AFTA, pemerintah dan pelaku bisnis harus siap menghadapinya dengan mempersiapkan strategi bisnis dan khususnya SDM agar kita mampu bersaing dalam skala dunia. Mutu SDM harus berorientasi kedepan, sebab itu continuous learning, fokus pada tim, “empowerment, kreatif, mengaplikasi paradigma learning organization —- the right man on the right place, at the right time, and the right company perlu diaplikasi.

Profesioanalisme manajemen, sistem informasi, budaya perusahaan yang tepat, pemanfaatan teknologi, strategi fungsional lainnya perlu terpadu dan mendukung pelaksanaan human resources practices yang sejalan dengan strategi SDM, strategi perusahaan, visi dan misi, disertai kepemimpinan yang handal, bermotivasi, berwawasan luas yang didukung oleh SDM yang berkualitas dan berorientasi pada learning organization akan memungkinkan perusahaan menghadapi persaingan bisnis dengan lebih percaya diri.

                    Ditingkat makro, dalam menghadapi tantangan globalisasi perusahaan atau pelaku bisnis, pemerintah atau akademisi perlu mengembangkan tenaga kerja nasional melalui program-program terpadu dan nyata seperti misalnya penyusun kurikulum pendidikan yang mengacu pada dunia usaha, dan memberikan pelatihan-pelatihan praktis. Kendati, tugas cukup berat, kita harus optimis dan segera menentukan dan menjalankan strategi yang tepat dalam meningkatkan mutu SDM atau tenaga kerja ditingkat nasional kita agar kita tidak tertinggal jauh dalam percaturan bisnis dunia.

Iklan